Allo Martins: Pengantar Ilmu Pemerintahan

Translate

Tampilkan postingan dengan label Pengantar Ilmu Pemerintahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengantar Ilmu Pemerintahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Februari 2014

Materi 56, Pengantar Ilmu Pemerintahan, Masyarakat Sipil



56. Masyarakat Sipil

Untuk membangun pemerintahan yang demokratis sangatlah penting ada jaminan satu akses yang memungkinkan keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat dalam proses-proses pembuatan keputusan.

Sebuah masyarakat sipil yang kuat adalah suatu prasyarat bagi demokrasi yang kuat, sekalipun diakui bahwa demokrasi mengizinkan berdirinya pengelompokan dan organisasi-organisasi  yang memiliki ide dan sikap yang justru bertentangan dengan perdamaian, toleransi, dan prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri.

Memperhatikan pengecualian ini, sangatlah perlu untuk memperbaiki kepasitas masyarakat sipil dengan memperbaiki peran, funssi, dan posisi organisasi-organisasi mastyarakat sipil di Indonesia.

Sebagai tambahan, struktur resmi pembuatan keputusan harus diperbaiki dengan memperkuat alat-alat pembuatan keputusan baik yang sudah ada maupun yang tradisional, dan dengan memperhatikan sepenuhnya aspirasi rakyat.

Hal ini dapat dilakukan sebagai bagian dari “paket reformasi” yang akan menyertakan, misalnya penguatan media dengan meningkatkan akses mereka akan informasi.

Perubahan lain akan didapatkan melalui reformasi jangka panjang, seperti perubahan pada kurikulum-kurikulum sekolah, khususnya dalam bidang-bidang yang diajarkan sebagai ideology negara namun justru berdampak buruk bagi penerapan nilai-nilai demokrasi.

Sumber:
………….., Lembaga Internasional untuk Bantuan Demokrasi dan Pemilu (International IDEA)  Penilaian Demokratisasi di Indonesia, Pengembangan Kapasitas Seri 8, Forum Untuk Reformasi Demokratis, 2000, h. 5-6.

Materi 55, Pengantar Ilmu Pemerintahan, Kritik Terhadap Teori Rostow

55 KRITIK TERHADAP TEORI ROSTOW

S. Kuznets, dia mengatakan bahwa Teori Rostow itu harus mempunyai ciri-ciri empiris serta setiap tahap harus cukup menunjukkan perbedaan dan adanya analisis dari setiap tahap untuk memasuki tahap berikutnya.

Sebagai contoh menurut Kuznets adanya kekaburan antara setiap saat seperti tahap prasyarat lepas landas dan lepas landas itu sukar dibedakan.

Selain itu menurut Kuznets bahwa teorinya Rostow itu belum jelas menunjukkan, dalam masyarakat yang bagaimana hal itu dapat terjadi.

Namun demikian apabila dilihat dari contoh-contoh yang disampaikannya jelas adanya pengalaman negara maju, dan Rostow ingin menunjukkan pula kepada pengalaman yang akan terjadi untuk negara-negara yang sedang membangun.

Menurut Kuznets melihat kurang pentingnya membedakan tahap lepas landas dengan tahap sebelum atau sesuadahnya dengan pertimbangan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat bukan dimulai dari tahap lepas landas tetapi telah berlangsung pada tahap sebelumnya.

Sebagai contoh apabila suatu negara mempersiapkan diri  untuk pembangunan yang lebih maju, maka pada waktu yang bersamaan telah terjadi pembangunan yang pesat.

Atau dilain pihak Kuznets melihat adanya perbedaan antara pengalaman berbagai negara karena sejarah negara itu sendiri.

Sebagai akhir dari kritik Kuznets terhadap teorinya Rostow ialah tahap yang terjadi setelah lepas landas akan terjadi pembangunan self- substained yaitu proses yang akan berjalan dengan sendirinya akan menciptakan kekuatan untuk mewujudkan pembangunan.

Hal ini menurut Kuznets adlah gejala gejala umum dari proses pembangunan sebab proses pembangunan adalah proses adu kekuatan antara factor-faktor yang mendorong pembangunan dan faktor- factor yang menghambat.

Jadi proses itu bukanlah suatu yang terjadi secara otomatis menciptakan tarap peningkatan ekonomi.

Sumber:
Bintoro Tjokroamidjojo, Mirrian Syofian, Muchtar Machmud, Administrasi Pembangunan, Penerbit Karunia, Jakarta, 1987, h. 2.33.

Materi 54, Pengantar Ilmu Pemerintahan, Tahap Konsumsi Tinggi


54. Tahap Konsumsi Tinggi

Pada masa ini masyarakat menekankan kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat,  masdan bukan lagi kepada masalah produksi.

Dalam hal ini ada tiga tipe tujuan masyarakat yang saling bersaing dalam mendapatkan sumber-sumber yang tersedia berikut dengan dukungan politik diantaranya: 
1.      Memperbesar pengaruh atau kekuasaan Negara tersebut terhadap Negara lainnya;
2.      Menciptakan suatu kesejahteraan yang lebih merata (walfere state), kepada segenap penduduk   melalui system perpajakan yang progresif di mana semakin besar pendapatan seseorang maka semakin besar pula pajak yang dikenakan kepadanya; 
3.      Memperluas konsumsi masyarakat di atas konsumsi biasa atau sederhana seperti makan atau konsumsi barang tahan lama maupun barang mewah.

Sumber:
Bintoro Tjokroamidjojo, Mirrian Syofian, Muchtar Machmud, Administrasi Pembangunan, Penerbit Karunia, Jakarta, 1987, h.2.33.




Materi 53, Pengantar Ilmu Pemerintahan, Masa Sesudah Lepas Landas


53. MASA SESUDAH LEPAS LANDAS

Tahap sesudah lepas landas ialah merupakan arah kedewasaan di mana masyarakat telah menggunakan teknologi modern secara efektif dalam sector-sektor industry dan pemanfaatan kekayaan alam.

Sector ekonomi berkembang dengan munculnya sektor pemimpin yang baru menggantikan sektor yang lama karena semakin mundur.

Hal ini ditentukan oleh perkembangan teknologi, kekayaan alam maupun kebijaksanaan pemerintah.

Sebagai contoh ialah Inggris yang pada waktu tahap lepas lands sektor industry tekstil digantikan oleh industry besi, mesin-mesin berat.

Ciri-ciri Negara yang telah mencapai tahap ini menurut Rostow ialah adanya struktur keahlian dalam sektor industri yang berubah, kepemimpinan yang professional dalam usaha menggantikan pemilik serta adanya kritik-kritik terhadap ciptaan industrialisasi.

Sumber:
Bintoro Tjokroamidjojo, Mirrian Syofian, Muchtar Machmud, Administrasi Pembangunan, Penerbit Karunia, Jakarta, 1987, h. 2.32.


My Visitor Globe

Visits